Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karya Agung Jalaluddin Rumi Al-Matsnawi al-Maknawi

       


 "Mathnawi" adalah kumpulan puisi mistik yang ditulis oleh Jalaluddin Rumi, seorang penyair dan sufi Persia terkenal. Karya ini mencakup berbagai tema spiritual, filosofis, dan etika, dan dikenal karena ungkapan mendalamnya tentang cinta, pencarian jiwa, dan hubungan dengan Tuhan.




         Berikut adalah beberapa tema dan makna umum yang terkandung dalam "Mathnawi": 


        - Pencarian Jiwa dan Persatuan dengan Tuhan: Karya ini mengeksplorasi konsep pencarian jiwa manusia untuk bersatu kembali dengan sumber ilahi atau Tuhan.Rumi menyampaikan gagasan tentang manusia sebagai "burung yang hilang" yang mencari kembali asal-usulnya.


        - Cinta Ilahi: Cinta merupakan tema sentral dalam "Mathnawi." Rumi menggunakan cinta antara manusia sebagai analogi untuk cinta antara manusia dan Tuhan. Dia menekankan bahwa cinta sejati adalah cinta terhadap Tuhan dan bahwa pencarian cinta ilahi adalah inti dari kehidupan spiritual. Pembersihan Diri dan Penyucian: Rumi merangsang pembaca untuk melakukan introspeksi dan membersihkan diri dari nafsu-nafsu dan kecenderungan negatif. Pembersihan diri diperlukan untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang hakikat dan mencapai kesatuan dengan Tuhan. 


        - Sikap Hati: Karya ini menyoroti pentingnya memiliki sikap hati yang terbuka dan menerima terhadap kebenaran. Rumi mengajarkan tentang pentingnya merenungkan makna dan hakekat dari pengalaman hidup. Ketidakkenalan Diri dan Penyadaran: Salah satu pesan utama Rumi adalah bahwa manusia sering kali tidak mengenali potensi sejati mereka dan terjebak dalam dunia materi. Dia mendorong individu untuk meninggalkan pandangan materialistik dan menyadari keberadaan spiritual mereka. 


       - Kesadaran Kebersamaan dan Kemanusiaan: "Mathnawi" juga mengajarkan tentang pentingnya saling mencintai dan menghormati sesama manusia. Rumi menekankan bahwa semua manusia berbagi asal-usul yang sama dan bahwa kesadaran akan kemanusiaan bersama harus mendominasi tindakan dan hubungan manusia. 


        Tema-tema ini mengandung makna yang mendalam dan kompleks, dan mereka mencerminkan pandangan Rumi tentang kehidupan, cinta, spiritualitas, dan relasi dengan Tuhan. "Mathnawi" adalah karya yang sarat dengan simbolisme dan alegori, dan tafsirannya dapat beragam tergantung pada perspektif individu yang membaca.


         "Bukanlah roh kita berasal dari tubuh kita Bukanlah kita datang ke sini untuk tinggal selamanya Kita adalah seperti tetesan air dari samudra tak terbatas Kita adalah bagian dari keseluruhan, kita bukanlah seorang diri."


      Syair ini mengajarkan tentang sifat sementara manusia di dunia ini dan menekankan pada hakikat rohaniah yang lebih besar. Rumi berbicara tentang asal usul roh yang bukan hanya terbatas pada tubuh fisik kita. Ia mengajak kita untuk memahami bahwa kita bukanlah makhluk yang berada di dunia ini selamanya, melainkan seperti tetesan air dari samudra yang luas, mengingatkan kita akan keterhubungan dan ketergantungan kita pada keseluruhan penciptaan.


       Rumi (1207-1273 M) menyebut Matsnawi sebagai “cahaya bagi kawan-kawan seperjalanan dan harta terpendam bagi pewaris jaoan keruhanian” kata Rumi “setiap orang orang uang tinggal jauh dari sumbernya ingin kembali ke saat ketika dia bersatu dengannya,”  jadi kias yang Rumi gunakan sebagai mana seruling yang diambil dari induk gerombolan bambu, seruling yang digunakan selalu menyenangdungkan suara melodi yang pilu dengan kerinduannya kembali pada induk gerombolannya. 

Sumber segala eksistensi adalah tuhan, dan kepada-Nyalah kita akan kembali. Dengan begitu dasar dari semua keberadaan adalah bersifat keruhanian. Manusia adalah makluk teomorfis, yang menyimpan seberkas cahaya Illahiah dalam dirinya, karena itu tujuan terdalam kehidupan insan itu bersifat Illahiah.

Rumi berpendapat bahwa manusia adalah mikrokosmos (jagad cilik) yang mampu menyerap dan menampung makrokosmos (jagad besar) di dalam bingkainya yang kecil tersebut. Ada ratusan dunia tak terlihat di dalam diri manusia. Sehingga seorang bijak bestari tidak patut mencari keindahan diluaran pada dirinya, bahwa keindahan itu terletak pada dirinya sendiri, melekat pada setiap nafas dan langkah kakinya sendiri. Maka kata Rumi dengan indahnya “kau sendiri adalah (seluruh0 masyarakat, kau satu dan ratusan ribu jumlahnya.”



penulis :

sumber:


Posting Komentar untuk "Karya Agung Jalaluddin Rumi Al-Matsnawi al-Maknawi "