Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cinta Azali : Mengurai Pesan Kedalaman dalam Syair Sufi Jalaluddin Rumi






" Awal dan akhirmu adalah cinta yang azali. Jangan ketempat perempuan lain setiap malam." Jalaluddin Rumi




"Menggali Makna Cinta Abadi dalam Islam dan Pemikiran Sufi: Refleksi atas Syair Puitis"


            Dalam keindahan puisi sufi, Jalaluddin Rumi mengeksplorasi makna cinta dalam dimensi yang mendalam. Dalam syairnya yang puitis, "Awal dan akhirmu adalah cinta yang azali. Jangan ketempat perempuan lain setiap malam," Rumi mengajak kita untuk merenungi keabadian cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Allah.  Mari kita telusuri makna mendalam dari syair ini dalam konteks pemikiran sufi dan ajaran Islam. Kita akan melihat bagaimana cinta kepada Allah menjadi akar dari segala cinta, serta bagaimana pemikiran sufi dapat membimbing kita dalam merenungkan arti cinta yang abadi.



Cinta Azali: Sumber Segala Cinta

            Syair ini membawa kita pada pengertian bahwa cinta Allah adalah asal dan tujuan akhir dari segala bentuk cinta. Cinta kepada Allah adalah fondasi dari kehidupan yang bermakna. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Dan di antara manusia ada orang yang mengambil sembahan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah." (Q.S. Al-Baqarah, 2:165). Cinta kepada Allah adalah panggilan untuk menjadikan-Nya pusat dari semua cinta dan pengorbanan kita.



            Dalam pemikiran sufi, cinta adalah perjalanan spiritual yang membimbing kita kembali kepada Allah. Syair ini mengajak kita untuk tidak terjebak dalam hasrat duniawi yang sementara, seperti "ketempat perempuan lain setiap malam.". Kesempurnaan cinta dicapai dengan merenungkan dan menghayati ajaran agama serta memperdalam hubungan dengan Sang Pencipta. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Hanya orang-orang yang beriman yang betul-betul takut kepada Allah." (Q.S. Al-Anfal, 8:2). Cinta yang berasal dari iman yang tulus membimbing kita pada jalan yang benar.



Kerinduan sebagai Ikrar: Mendekatkan Diri pada-Nya

            Syair ini juga mencerminkan kerinduan yang mendalam dalam diri manusia untuk meraih cinta-Nya. Dalam pandangan sufi, kerinduan adalah bentuk ikrar dan kesadaran akan kebutuhan jiwa akan cinta Ilahi. Dalam Al-Quran, Allah berfirman: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar." (Q.S. Ali Imran, 3:104). Kerinduan yang kuat kepada Allah mendorong kita untuk berbuat kebaikan dan menolak yang buruk.


            Cinta kepada Allah adalah pendorong utama dalam perjalanan spiritual. Syair ini menandai bahwa cinta yang abadi dan tak tergoyahkan ada dalam hubungan dengan Tuhan. Dalam Al-Quran, Allah berfirman: "Hanya orang-orang yang beriman yang betul-betul takut kepada Allah." (Q.S. Al-Baqarah, 2:197). Cinta yang kuat kepada Allah mendorong kita untuk mendekati-Nya dengan penuh kerendahan hati dan ketaatan.



            Syair dari Jalaluddin Rumi memandu kita untuk merenungi cinta azali kepada Allah sebagai asal dan tujuan akhir segala cinta. Dalam pandangan Islam dan pemikiran sufi, cinta kepada Allah adalah pendorong utama dalam perjalanan spiritual. Dengan merenungkan pesan dalam syair ini serta memahami ajaran Al-Quran, kita dapat menjadikan cinta kepada Allah sebagai pusat kehidupan dan mengarahkan semua cinta kita pada-Nya.



Syair dari Jalaluddin Rumi mengingatkan kita akan keabadian cinta kepada Allah dalam pemikiran sufi. Dalam Islam, cinta kepada Allah adalah sumber segala cinta dan panggilan untuk mendekati-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita.






penulis   : Usaka
sumber   : Kitab Karya Jalaluddin Rumi
                   Al QurĂ¡n dan terjemahan



 

Posting Komentar untuk "Cinta Azali : Mengurai Pesan Kedalaman dalam Syair Sufi Jalaluddin Rumi"