Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doá sebagai Jembatan Menuju Kehadiran Ilahi: Makna dalam Syair Sufi Jalaluddin Rumi

 



" Ketika kita memulai berdoá, Tuhan telah mengabulkan doá itu sendiri.
Karena kesadaran untuk berdoá hakikatnya hadiah dariNya. "

Jalaluddin Rumi



"Doá sebagai Penghubung dengan Sang Pencipta: Refleksi atas Pesan Pemikiran Sufi dalam Puisi Jalaluddin Rumi"


Dalam keindahan puisi sufi, Jalaluddin Rumi mengajak kita untuk merenungi hubungan khusus antara manusia dan Tuhan melalui doá dalam syairnya yang puitis: "Ketika kita memulai berdoá, Tuhan telah mengabulkan doá itu sendiri. Karena kesadaran untuk berdoá hakikatnya hadiah dariNya.". Mari kita menjelajahi makna mendalam dari syair ini dalam konteks pemikiran sufi dan ajaran Islam. Kita akan memahami bagaimana doá menjadi jembatan menuju kehadiran ilahi, mengaitkannya dengan konsep tawakkal (pengharapan penuh kepada Allah), serta mengeksplorasi bagaimana pemikiran sufi membantu kita dalam memahami makna sejati dari berdoá.


Doá: Komunikasi Rohani Antara Manusia dan Tuhan


Syair ini membuka pintu bagi pemahaman tentang doá sebagai bentuk komunikasi rohani antara manusia dan Tuhan. Dalam pemikiran sufi, doá adalah sarana untuk berbicara kepada Sang Pencipta, mengungkapkan harapan, kebutuhan, dan rasa syukur. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'" (Q.S. Ghafir, 40:60). Doá adalah panggilan untuk berbicara kepada Tuhan dengan tulus dan ikhlas.


Doá sebagai Hadiah Kesadaran Rohani


Dalam syair, kesadaran untuk berdoá dianggap sebagai hadiah dari Tuhan. Pemikiran sufi mengajarkan bahwa kemampuan untuk merasakan kebutuhan untuk berdoá adalah anugerah ilahi. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (Q.S. Al-Baqarah, 2:186). Kesadaran untuk berdoá adalah bentuk perhatian khusus dari Allah kepada hamba-Nya.


Tawakkal (Pengharapan Penuh kepada Allah) dalam Berdoá


Syair ini juga mengingatkan kita akan konsep tawakkal dalam Islam, yaitu pengharapan penuh kepada Allah dalam berdoá. Dalam Islam, berdoá tidak hanya sekadar mengungkapkan keinginan, tetapi juga menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Dan apabila kamu berdoa, maka pohonlah kepada Allah dengan menyebut (nama) Allah dan menyebutkan nama bapakmu, dia lebih suka jika kamu demikian. Dan janganlah kamu melampaui batas dalam berdoa, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (Q.S. Al-Isra, 17:110). Tawakkal adalah sikap rendah hati dan mengharap sepenuhnya pada Allah dalam berdoá.


Pemikiran Sufi dalam Memahami Makna Sejati Berdoá


Dalam pemikiran sufi, memahami makna sejati berdoá adalah bagian penting dari perjalanan spiritual. Syair ini mengajarkan bahwa doá adalah lebih dari sekadar kata-kata, tetapi juga bentuk ikatan khusus dengan Sang Pencipta. Pemikiran sufi mengajarkan bahwa doá adalah jalan untuk menyelami hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan dan merasakan hadirat-Nya.


Syair dari Jalaluddin Rumi mengajak kita untuk merenungi makna mendalam dari doá sebagai bentuk komunikasi rohani dengan Tuhan. Dalam pemikiran sufi dan ajaran Islam, doá adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan kehadiran ilahi. Doá adalah ungkapan tulus hati yang membawa kita lebih dekat pada Tuhan, dan kesadaran untuk berdoá adalah hadiah dari-Nya.


Syair dari Jalaluddin Rumi mengingatkan kita akan pentingnya memahami makna mendalam dari doá dalam perjalanan spiritual. Dalam Islam, doá adalah bentuk komunikasi rohani yang memungkinkan kita berbicara kepada Tuhan dengan tulus dan ikhlas. Dengan merenungkan pesan dalam syair ini dan mengaitkannya dengan ajaran Al-Quran, kita dapat lebih menghargai nilai sejati dari berdoá sebagai jembatan menuju kehadiran ilahi.






penulis   : Usaka
sumber   : Kitab Karya Jalaluddin Rumi
                Al Qurán dan terjemahan

Posting Komentar untuk "Doá sebagai Jembatan Menuju Kehadiran Ilahi: Makna dalam Syair Sufi Jalaluddin Rumi"