Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pergulatan Hati yang Ditinggalkan: Menafsirkan Pesan Syair Jalaluddin Rumi

 


"Kekasih pergi dan hati yang tersisa." 

Jalaluddin Rumi



"Merangkai Makna Syair Puitis: Menggali Perjalanan Hati dalam Pemikiran Sufi "


Dalam keindahan puisi sufi, Jalaluddin Rumi menghadirkan pesan yang merenungkan tentang perjalanan hati dan cinta dalam syairnya yang singkat namun bermakna: "Kekasih pergi dan hati yang tersisa.".  Kita akan membedah makna mendalam dari syair ini dengan lensa pemikiran sufi dan ajaran Islam. Kami akan menjelajahi bagaimana perjalanan hati menghadapi cinta, kerinduan, dan pemberian diri, serta menghubungkannya dengan konsep tawakkal (pengharapan penuh kepada Allah). Bersama-sama, kita akan meresapi makna puitis ini dan mencari inspirasi dari Al-Quran untuk merenungi arti dari setiap kata.


Perjalanan Hati dalam Cinta dan Kerinduan


Syair ini membuka jendela kepada perjalanan hati yang menemui cinta dan kerinduan. Dalam pemikiran sufi, hati adalah tempat di mana cinta untuk Sang Kekasih bersemi dan tumbuh. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Q.S. Ar-Rum, 30:21). Cinta adalah anugerah yang menghuni hati manusia.


Pergulatan Setelah Kekasih Pergi


Syair ini menggambarkan perjalanan hati setelah kekasih pergi. Pergulatan hati ini mencerminkan kerinduan dan kekosongan yang dirasakan setelah kehilangan sosok yang diinginkan. Dalam Islam, kekosongan ini adalah panggilan untuk mengingat Allah. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Q.S. Ar-Ra'd, 13:28). Pergulatan ini mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga hubungan dengan Sang Pencipta saat menghadapi perubahan dalam kehidupan.


Pemberian Diri dan Tawakkal dalam Cinta Ilahi


Dalam konteks sufi, "Kekasih" juga dapat merujuk pada Sang Kekasih Ilahi, yaitu Allah. Syair ini dapat diartikan sebagai panggilan untuk memberikan diri sepenuhnya kepada Allah setelah kekasih duniawi pergi. Dalam Islam, pemberian diri adalah bagian dari tawakkal, pengharapan penuh kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Katakanlah: 'Hai Tuhanku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar-benar masuk dan keluarkanlah dengan keluar yang benar-benar keluar, dan jadikanlah untukku dari sisi Engkau satu kekuasaan yang menolong.'" (Q.S. Al-Isra, 17:80). Tawakkal adalah bentuk pengabdian dan keserahan sepenuhnya kepada kehendak Allah.


Menyelami Pesan Puitis dalam Islam


Pesan dalam syair ini dapat dikaitkan dengan konsep tawakkal dan pemberian diri dalam Islam. Syair ini mengajak kita untuk mengarahkan cinta dan kerinduan kita kepada Allah setelah kehilangan cinta duniawi. Pemikiran sufi mengajarkan bahwa pemberian diri kepada Sang Kekasih Ilahi adalah bentuk pemenuhan terhadap panggilan rohaniah.


Makna Dalam Setiap Kata: Mengambil Inspirasi dari Al-Quran


Syair ini mengingatkan kita akan pentingnya merenungi setiap kata yang diucapkan. Allah berfirman dalam Al-Quran: "Dan barang siapa yang menyandarkan dirinya kepada Allah, maka Dia lah tempatnya yang amat kokoh." (Q.S. At-Talaq, 65:3). Setiap kata dalam syair ini dapat menjadi pelajaran bagi kita tentang tawakkal dan kepercayaan penuh kepada Allah.


 Perjalanan Hati dalam Pemberian Diri kepada Sang Kekasih Ilahi


Syair dari Jalaluddin Rumi mengajak kita untuk merenungi perjalanan hati yang menjalani cinta, kerinduan, dan pemberian diri kepada Allah. Dalam Islam dan pemikiran sufi, hati adalah tempat di mana perjalanan rohaniah terjadi. Syair ini memandu kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dalam setiap aspek kehidupan, mengisi kekosongan dengan cinta dan kepercayaan kepada-Nya.


Syair dari Jalaluddin Rumi mengajak kita untuk merenungi perjalanan hati dalam cinta, kerinduan, dan pemberian diri kepada Allah. Dengan mengaitkannya dengan ajaran Al-Quran, kita dapat lebih memahami arti puitis ini dalam konteks Islam dan pemikiran sufi.




penulis        : Usaka
sumber    
    : Kitab Karya Jalaluddin Rumi
                      Al QurĂ¡n dan terjemahan

Posting Komentar untuk "Pergulatan Hati yang Ditinggalkan: Menafsirkan Pesan Syair Jalaluddin Rumi"